Kegiatan


Cegah Intoleransi & Radikalisme, Kesbangpol & FKPT Sulbar Duduk Bersama

MAMUJU — Mencegah timbulnya sikap intoleran dan paham radikal di tengah masyarakat, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulbar dan Badan Kesbangpol Sulbar menggelar Focus Group Discussion (FGD).

Sekretaris FKPT Sulbar Suparman Sopu menjelaskan, FGD ini sebagai bentuk sharing dengan berbagai pihak dalam penanganan intoleransi dan radikalisme. “Semoga kita tetap terus dapat bekerja sama. Ini penting, karena ada banyak hal yang perlu disampaikan dan dibahas bersama,” ujarnya, Kamis 25 Maret 2021

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BPNT), melalui Daputi I, membentuk FKPT di setiap provinsi. Sasaran kerja FKPT adalah menurunkan potensi tindak pidana terorisme.

Ia menjelaskan, BPNT adalan lembaga non kemeterian, karena berada di bawah Presiden. Lembaga ini menjadi pusat pengendalian ketika terjadi tindak pidana terorisme.

“BNPT ini adalah sebuah kekuatan di bangsa kita yang diakui dunia. Bahkan ada beberapa negara yang datang ke Indonesia melakukan studi banding dalam pencegahan terorisme di negara kita,” jelas Suparman.

Di setiap provini, FKPT bekerja dengan menggerakkan lima bidang. Masing-masing; Bidang Agama, Penelitian, Perempuan dan Anak, Pemuda, dan Bidang Media.

Untuk tahun ini, di Sulbar, akan dijalankan berbagai kegiatan. Pertama, ntegrasi nilai-nilai agama dan budaya di sekilah dalam menumbuhkan harmoni kebangsaan (Bidang Agama FKPT Sulbar). Kedua, rembuk aparatur kelurahan/desa tentang literasi informasi (Bidang Media FKPT Sulbar).

Ketiga, dialog perempuan agen perdamaian dalam pencegahan radikalisme (Bidang Perempuan dan Anak FKPT Sulbar). Keempat, pelibatan siswa dalam pencegahan terorisme (Bidang Pemuda FKPT Sulbar), dan kelima adalah survei nasional dan penelitian penguatan kebhinekaan (Bidang Penelitian FKPT Sulbar).

“Dari peran-peran ini, kita berharap sesungguhnya ada dukungan kuat dari pemerintah daerah,” harap Suparman.

Kepala Badan Kesbangpol Sulbar Herdin Ismail menyampaikan, di Sulbar ini beragam etnik. Tentu tantangan eksternalnya adalah arus globalisasi dan potensi pertarungan ideologi.

“Kami sudah mencoba membuat maping mengenai ancaman dalam kemajemukan. Mulai dari aspek primordialisme sampai potensi radikalisme,” sebutnya.

Lalu apa yan harus dilakukan kedepan? Menurut Herdin, salah satu hal yang perlu untuk diwujudkan adalah membangun harmonisasi masyarakat dengan menumbuhkan sikap toleran. Kemudian, membangun kehidupan politik yang demokratis, ekonomi yang berkeadilan sosial, dan meminimalisir kesenjangan sosial. (ham)